Beranda Klinik Kesehatan Alat Kontrasepsi, Perlukah?

Alat Kontrasepsi, [masih] Perlukah?

79
0
BERBAGI
foto_ilustrasi_repro: Republika Online

Ada pemikiran, kehadiran anak dalam sebuah keluarga adalah titipan ilahi. Maka mengaka harus kita hambat?

Mohd Andalas Dr. dr. Sp.OG. FMAS*    

Judul tulisan ini menarik untuk dibahas, sebab terkadang kita sering terbawa pada diskusi, ‘Perlu atau tidak pemakaian alat kontrasepsi dengan berbagai dalil dasar pemikiran seseorang?’

Sebagai contoh saya kemukakan, di Provinsi Aceh pascatsunami yang memakan begitu banyak korban jiwa, ada kesan sebagian masyarakat seolah bertanya, “Untuk apa kita memakai alat kontrasepsi, sedang jumlah masyarakat kita banyak berkurang? Atau dari sisi pandangan lain, bagi seseorang yang menganut/berprinsip bahwa kehadiran anak dari sebuah keluarga adalah titipan ilahi, maka kenapa kita harus hambat?

Sampai saat ini belum ada dasar hukum yang bisa dijadikan regulasi khusus jumlah anak yang diijinkan dalam sebuah keluarga. Yang ada adalah anjuran mengajak dalam sebuah keluarga untuk berada dalam sebuah keseimbangan terkait jumlah anak yang diinginkan, jarak antara kelahiran pertama dengan kedua dan seterusnya yang bertujuan memberi kesempatan pada sebuah keluarga merencanakan jumlah anggota keluarganya.

Mengatur Jarak Kehamilan

Mengapa kita perlu mengatur jarak kehamilan? Mengapa itu penting? Alasannya, ternyata dengan perencanaan yang baik ini, terbukti kita telah melakukan proses tugas besar menjaga titupan sang pencipta untuk tumbuh kembangnya seorang khalifah yang telah diamanahkan pada kita, mahkluk insani. Ditambah lagi dengan situasi perekonomian kita saat ini.

Masalah lain yang menjadi dasar pemikiran perlunya perencanaan kapan sebaiknya hamil dan kapan sebaiknya waspada bila kembali menjadi hamil bila usia sudah lanjut, hal ini dihubungkan dengan belum siapnya tubuh sang ibu bila dia menjadi hamil, juga risiko kecacatan bagi bagi bayi bila hamil dari telur seorang ibu di atas usia 40 tahun.

BACA JUGA:
                 •    Bidan harus Bekerja Ikhlas dan Tanpa Pamrih
                 •    Deteksi Cacat Embrio Cara Non-invasif. Haruskah?
                 •    AKI Indonesia Jauh dari Harapan    

Penulis ingin katakan, tak ada larangan pada seorang ibu dengan usia relatif lanjut, khususnya yang memang telat mendapat momongan atau akibat faktor lain. Tapi untuk kelompok ini harus dilakukan deteksi adanya kelainan dari janin yang dikandungnya dengan skrining dan konsultasi dengan dokter kandungan anda.

Di negeri maju sudah menjadi acuan tetap bila usia ibu di atas 35 tahun, maka akan diskrining kehamilan seseorang. Terlalu sering melahirkan memberi beban rahim berlebihan sehingga berisiko rahim lemah tidak berkontraksi dengan baik pascamelahirkan, sehingga mempunyai potensi pendarahan pascahamil.

Pendarahan pascahamil menjadi salah satu penyebab kematian ibu, selain faktor tekanan darah tinggi dan infeksi. Indonesia saat ini masuk salah satu negara tertinggi angka kematian ibu. Target pemerintah sesuai Mileneum Devolepment Goal’s (MDGs 1990-2015), ratio kematian ibu dalam 100.000 kelahiran 102, tetapi hingga akhir tahun MDGs, tepatnya 2012, hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia(SDKI), angkanya masih 359/100.000 kelahiran.

Maka sudah menjadi kewajiban kita memikirkan tumbuh kembang anak, persiapan pendidikan sesuai keinginan sianak kelak. Bila kita masuk dalam program perencanaan dari sebuah keluarga, maka menurut penulis, alat kontrasepsi masih sangat diperlukan. Sebab kita harus memberikan hak seorang bayi dan anak mendapat kasih sayang dari seorang ibu dan ayahnya dengan baik.

Begitu juga, kita harus memberikan hak seorang ibu cuti dari proses reproduksi sejenak, sebab dampak sebuah proses kehamilan yang begitu pelik, terutama diawal masa kehamilan, dengan penderitaan mual dan muntah dan kadang bagi sekelompok ibu muda harus dirawat di rumah sakit. Begitu juga saat proses bersalin, tugas seorang ibu begitu menantang dan bahkan dapat mengancam jiwanya.

Keadaan ini bisa juga terjadi bagi seorang ibu yang melahirkan dengan proses operasi sesar, berupa pendarahan, komplikasi operasi dan lain-lain. Selanjutnya, seorang ibu akan melewati masa merawat bayi dalam tiga tahun pertama yang cukup repot.

Maka menurut penulis, tak ada alasan bagi kepala keluarga untuk tidak memberi masa istirahat bagi ibu dari proses berproduksi, sehingga dapat memberi kesempatan bagi seorang ibu dapat menjalankan tugas lainnya untuk mengurus urusan rumah tangga, terutama sang bapak yang juga membutuhkan perhatian yang cukup.

Strategi yang sangat penting adalah upaya adalah dalam memilih cara untuk dapat mengatur sesuai pola yang kita telah rencanakan tadi. Bisa saja dengan alat kontrasepsi secara alamiah dengan pantang berkala bagi yang takut dengan obat/zat kimia atau senggama terputus. Tapi sayangnya cara ini kurang dianjurkan, karena angka kegagalan tinggi.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi atau alat KB yang telah  banyak tersedia saat ini dan mudah didapat di segala pelosok desa dengan harga terjangkau. Bagi kelompok keluarga yang ingin pola keluarga terencana dengan baik sesuai diskusi yang penulis sampaikan di atas, maka alat kontrasepsi dapat sangat membantu.

Kemudian dalam  memilih alat/obat KB, pilihlah yang aman bagi ibu. Misal tidak membuat ibu menjadi gemuk dan tidak mengganggu siklus haid ibu. Pilih alat kontrasepsi yang cepat mengembalikan fungsi kesuburan bila KB distop. Pilihlah alat KB yang mudah dievaluasi dan lain sebagainya.

Untuk mendapat pelayanan yang demikian, maka jangan malu berkonsultasi dulu sebelum memakai kontrasepsi, sehingga ibu  dan suami paham cara kerja obat dan berbagai risiko komplikasi bila ada. Hal ini penting karena banyak keluarga yang minta segera dibuka atau diganti cara berKBnya, walaupun baru menggunakannya dalam satu dua bulan sebelumnya. Hal ini sering penulis alami dalam praktik sehari-hari.

Pilihan yang Dianjurkan

keluarga_berencana_ilustrasi_repro_KarobaNews

Bagi keluarga yang ingin menunda hamil, pilihannya adalah cara KB sederhana, yakni kondom atau pantang berkala. Tapi bila tak yakin bisa berhasil baik, maka pil kontrasepsi kombinasi menjadi pilihan utama.  Tidak dianjurkan suntikan tiga bulan dan alat KB dalam rahim atau IUD. Suntikan KB tiga bulan dinilai menekan fungsi kesuburan hingga satu tahun dan risiko kegemukan. Sedangkan dengan IUD sering ditakutkan dengan risiko infeksi sekunder pada saluran tuba.

Bagi kelompok yang mau memberi jarak dengan kelahiran berikutnya, pil KB kombinasi, pil KB menyusui, suntikan KB tiga bulan dan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD). Penulis menganjurkan alat KB dalam rahim yang berguna dipakai 3 hingga 5 tahun jauh lebih nyaman, karena tidak merepotkan seorang ibu dalam hal kontrol ulang. Dan andaikan lupa kontrol, tidak menjadi permasalahan. Saat ini alat KB dalam rahim sudah langsung dipasang pascamelahirkan normal atau operasi sesar.

Ada sekelompok ibu mengeluh pendarahan banyak dan di luar siklus dengan pemakaian alat ini. Hal ini bisa saja diatasi dengan mudah, melalui konsultasi kepada dokter, atau bisa juga memakai alat KB dalam rahim khusus dengan kombinasi hormonal yang bisa meminimalisasi komplikasi pendarahan.

Kontrasepsi  saat ini terkesan menjadi sebuah kebutuhan dalam sebuah keluarga. Di masa lalu, program KB terkesan hanya sebuah upaya restriksi pemerintah untuk orang bertambah anak, padahal bila ditilik lebih jauh pengguanaan alat kontrasepsi banyak manfaatnya untuk keluarga yang sangat subur.

Umumnya trend para keluarga muda kita saat ini dengan jumlah anak 3,  berbeda dengan masa lalu dengan kisaran rerata 5 orang. Penulis dalam ruang praktek sehari-hari masih sering menghadapi pasangan  yang memiliki anak yang masih kecil dan kembali hamil, lalu dengan berat hati—dan sedikit malu—meminta dokter untuk membantu bagaimana kalau kehamilan tersebut—hasil tes kehamilan—tidak dilanjutkan.

Tidak ada alasan yang membenarkan seorang dokter mengakhiri kehamilan seseorang, sebab melanggar hukum dan sebuah dosa besar, kecuali ada alasan medis. Maka menjadi tugas bersama seluruh aparat terkait, baik itu dokter, keluarga dan pemerintah, mendukung sepenuhnya upaya sosialisasi  promosi kesehatan reproduksi demi terciptanya norma keluarga yang sejahtera dengan perencanaan  jarak kelahiran dan jumlah anak yang sesuai kemampuan sebuah keluarga. *ara

*Penulis dosen senior FK Unsyiah/Penanggungjawab Klinik New Putro Phang, Simpang Surabaya, Bandaaceh