Beranda Kuta Raja Aminullah Hadiri Konferensi Kota Hijau di Kota Malaka

Aminullah Hadiri Konferensi Kota Hijau di Kota Malaka

92
0
BERBAGI

FOKUSACEH.COM, Banda Aceh – Walikota Banda Aceh H Aminullah Usman SE Ak MM menghadiri  Konferensi Kota Hijau (Green cities conference) di Kota Malaka, Malaysia, Selasa (5/9/2017). Kegiatan ini digelar selama dua hari dari tanggal 5 s/d 6 September.

Kabag Humas Setdakota, Dody Haikal S STP menjelaskan Walikota Banda Aceh saat ini hadir bersama sejulah Walikota dari berbagai daerah di Indonesia dalam rangka mengikuti konferensi yang mengusung tema ‘meningkatkan kerjasama dan integrasi regional menuju jaringan kota hijau di ASEAN’.

Selain Walikota Banda Aceh, kegiatan ini juga dihadiri Acara ini dihadiri oleh Walikota Pontianak dan Tanjung Pinang, dari Malaysia diikuti perwakilan Negara Bagian Malaka, Thailand diikuti perwakilan Kota Hatyai, Songkla dan Phuket. Kegiatan ini juga diikuti Asian development Bank (ADB), Centre for IMT-GT Coordination Division, ICLEI, organisasi 100 resilient City, The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), perwakilan dari Universitas, serta beberapa organisasi dan perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi hijau. Konfrensi ini dibuka oleh Malaka State Executive Councilor for Education, Higher Education, Science & Technology, Green Technology and Innovation, Datuk Wira Haji Muhammad Yunos bin Husin.

Kata Kabag Humas, konferensi ini diselenggarakan untuk mengumpulkan para stakeholder kunci dari Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) dan Greater Mekong Sub Region (GMS).

“Konferensi ini diharapkan dapat menghasilkan platform bersama bagi stakeholder di ASEAN untuk menunjukkan upaya pembangunan hijau berdasarkan Sustainable Development Goals (SDG’s),” kata Kabag Humas.

Konferensi Kota Hijau hari pertama difokuskan pada lima topik utama, yaitu IMT-GT Green Cities Action Plan, membangun kota tangguh terhadap perubahan iklim, transportasi berkelanjutan untuk kota hijau, efisiensi energi, dan kampus hijau sebagai pusat pembelajaran bagi kota.

Delegasi Kota Banda Aceh, selain Walikota juga ikut Bapak Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Iskandar S Sos MSi serta Tenaga Ahli Regional Planning Bappeda Kota Banda Aceh.

Konferensi pada hari pertama memberikan banyak masukan bagi delegasi Kota Banda Aceh, diantaranya Perlunya kota-kota dunia untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim yang berakibat rentannya perkotaan terhadap bencana dan dampak perubahan iklim. Kemudian perlunya membangun kota yang layak huni/livable yang berorientasi pada manusia dengan membangun ruang terbuka hijau yang atraktif sebagai daya tarik.

Selanjutnya ada pembangunan transportasi publik yang berkualitas merupakan salah satu kunci pembangunan kota hijau Perlunya upaya untuk membangun kota yang ramah energi melalui pembangunan energi terbaharukan seperti sistem tenaga surya, penghematan energi, serta penggunaan lampu LED. Perlunya kota menyusun rencana aksi kota hijau (Green Cities Action Plan) yang merupakan dokumen kunci dalam mendapatkan dukungan keahlian dan finansial dari lembaga-lembaga dunia yang mendukung kota hijau.

Perlunya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam bidang pariwisata (green tourism) dan konsumsi hijau (green consumption). Pentingnya komitmen pada layanan dan makanan halal sebagai bagian tidak terpisahkan dari syariat islam.
Perlunya green government, dimana ditekankan perlunya green institution yang bertanggungjawab penuh terhadap pelaksanaan pembangunan hijau/ green development.

Membangun jaringan bersama kota-kota hijau dunia. Saat ini, telah ada banyak organisasi yang bisa memberikan dukungan keahlian untuk kota yang berkomitmen terhadap visi kota hijau.
“Banda Aceh bisa mendapatkan banyak manfaat dengan bergabung dalam jaringan ini,” tambah Kabag Humas.
Kemudian penggunaan tools dan studi komprehensif untuk memantau progress program kota hijau sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi.

Pentingnya local champion yang bisa menggerakkan semua elemen kota untuk berkomitmen terhadap kota hijau. Local champion bisa merupakan pemimpin daerah, tokoh masyarakat, hingga pegawai daerah setempat.

Selanjutnya perlunya menjaga karakteristik unik kota dengan pelestarian sejarah kota melalui program heritage city.

Kehadiran dalam konferensi ini merupakan bagian dari upaya dari Kota Banda Aceh untuk bisa bergabung dalam pilot project kota hijau. Dalam kesempatan ini, Walikota Banda Aceh juga menyerahkan plakat kepada perwakilan pemerintah Kota Malaka dan Asian Development Bank (ADB). (ril)