Beranda Klinik Kesehatan Bolehkah Operasi Sesar Lebih dari Tiga Kali?

Bolehkah Operasi Sesar Lebih dari Tiga Kali?

120
0
BERBAGI

Fokusaceh.com – Dampak pembangunan di bidang kesehatan dan berbagai kemudahan akses pelayanan, mengakibatkan operasi sesar bukan hal menakutkan lagi. Saat ini malah ada teknik yang mebuat ibu tidak merasa sakit hingga saat pulang ke rumah, dengan kemajuan teknologi pembiusan dalam memberi obat anti nyeri.

Ariefara-Bandaaceh

 

Maka tidak heran sekarang banyak ibu muda meminta bersalin dengan operasi sesar, tanpa indikasi medis yang jelas. Masalah pilihan ini menjadi hak seseorang, maka dapat dikatakan sah-sah saja.

Namun tidak demikian dengan asuransi kesehatan. Biaya operasi tidak dibayar bila tidak ada indikasi medis. Indikasi medis adalah alasan yang menjelaskan secara keilmuan bahwa demi optimalisasi persalinan, bisa atas alasan kondisi janin atau ibu hamil.

Bolehkah operasi yang kempat atau kelima?

Menurut Dr. dr. Mohd. Andalas Sp.OG, FMAS, dosen senior bagian Obgyn FK Unsyiah, yang juga penanggungjawab Klinik Bersalin New Putrophang, Simpang Surabaya, Bandaaceh, boleh-boleh saja.

“Tetapi perlu diingat, operasi sesar atau bedah umum lainnya yang ke-4, apalagi ke-5, sebuah tindakan operasi yang menantang bagi seorang dokter Obgyn/bedah,” katanya.

Mengapa dikatakan menantang? Menurut dia, akibat risiko perlengketan sehingga memberi kesulitan yang berisiko komplikasi cidera usus dan kandung kencing. Risiko kejadian ini sangat tergantung juga pada teknik operasi, operator dan bahan/benang operasi dari sebuah rumah sakit, serta kondisi pasien itu sendiri.

Karena berisiko terjadi berbagai komplikasi ini, maka kesepakatan yang secara umum diambil hanya disarankan sebaiknya tiga kali operasi. Lalu bagaimana jika harus hamil keempat, sebab belum mempunyai anak lelaki atau perempuan?

“Untuk situasi ini kadang menjadi perdebatan antara dokter dan keluarga, sehingga kadang kala dokter bisa mengalah. Seperti yang pernah saya alami hingga terpaksa mengijinkan hamil kelima dengan alasan gender bayi, demi alasan sosial keluarga tersebut,” kata Andalas.

Bersyukur saat anak kelima berhasil didapat, momongan sesuai yang dinginkan. Heboh jumlah anak dan jenis kelamin ini umumnya berlaku di negara berkembang. Sebab tidak demikain dengan negara maju. Di sana umumnya mereka nikah di usia lanjut dan rerata punya anak 1 atau 2 saja.

Masalah merencanakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, kata Andalas, hingga saat ini tidak ada satupun teknik yang bisa menjamin, walau dengan teknik bayi tabung.

“Sebenarnya ini berkah karunia Ilahi yang telah dipercayakan pada sebuah keluarga. Apapun jenisnya sama saja, jangan takut wanita pun ada yang menjadi presiden, menteri dan wali kota. Tapi perlu diingat oleh para kepala keluarga, yakni risiko komplikasi dari operasi tersebut mulai dari ringan hingga yang terberat,” katanya. *ara.