Beranda Klinik Kesehatan Deteksi Cacat Embrio Cara Non-invasif. Haruskah?

Deteksi Cacat Embrio Cara Non-invasif. Haruskah?

135
0
BERBAGI
repro_http://sharingdisana.com

Tanggal 12-15 Maret lalu, Persatuan Obgyn dan Ginekologi Indonesia (POGI) menggelar pertemuan ilmiah tahunan di Jogjakarta. Materi pembicaraan dalam even tersebut terkait kesehatan ibu dan bayi.

Dr. Dr. Mohd. Andalas Sp.OG FMAS

dr andalas

Pertemuan ilmiah tahunan Himpunan Dokter Obgyn Minat Kesehatan Fetus/Janin dan Ibu Hamil yang saay ikuti selama tiga hari di Jogjakarta, memberikan banyak pemahaman baru. Khususnya yang menyangkut materi terkait kesehatan ibu dan bayi. Apalagi, pemateri yang hadir merupakan pakar di bidangnya masing-masing, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

BACA JUGA:
                     •    AKI Indonesia Jauh dari Harapan    
•    Persit KCK Lakukan Pemeriksaan Papsmear dan IVA
•    Yayasan Jantung Aceh Terus Berkiprah

Pembicaraan dalam bidang fetomatarnal ini adalah hasil riset dan kajian demi upaya membuat janin di kandungan ibu  sehat, dan ibu dapat melewati proses kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik.

Masalah kesehatan terkait ibu hamil  sangat penting dibicarakan di Indonesia saat ini karena kunci suksesnya menurunkan angka kematian ibu yang masih tinggi. Kematian ibu dalam usia reproduksi dominan akibat komplikasi saat hamil, misal tekanan darah tinggi, pendarahan, persalinan seperti perdarahan saat melahirkan dan berbagai komplikasi lainnya.

Terkait proses melahirkan tersebut dan berbagai komplikasi lainnya, saya akan menulis beberapa catatan sekilas upaya deteksi cacat embrio atau janin dari seorang ibu. Hal ini perlu mengingat semakin banyak dilaporkan kasus yang terjadi.

Kita pernah mendengar ada sesorang yang melahirkan tapi bayi tak tertolong, atau  bayi yang lahir tapi cacat dan berbagai cerita lainnya, Menjadi pertanyaan bagi kita, adakah yang salah dalam hal ini? Apakah ibu ada memakan obat yang tidak dianjurkan dikonsumsi selama hamil muda? Atau adakah ibu hamil melakukan upaya lain karena belum siap menerima kehamilan?

Pertanyaan tersebut menjadi beberapa hal yang rutin ditanyakan bila berkonsultasi pada dokter. Andaikan ada tidak menjadi sebuah kejutan karena kita sendiri telah berupaya melakukan sebuah perbuatan yang tidak semestinya. Menjadi pertanyaaan besar adalah bila  kita tidak melakukan hal yang menjadi pertanyaan di atas tadi, malah ini adalah sebuah kehamilan yang sangat dinantikan, ada apa dan kenapa ini bisa terjadi?

Cara Mendeteksi

Selama ini dalam praktek kebidanan, hal deteksi cacat bawaan menggunakan bantuan sonografi atau USG, yang dilakukan pada kehamilan tiga bulan pertama. Dalam tulisan ini terkait cara baru menentukan cacat genetik dari calon jabang bayi sebuah perpaduan konsepsi dari gen ibu dan bapak. Cacat genetik adalah ketidaksempurnaan dalam susunan gen pada bayi. Gen itu sendiri dapat didefinisikan sebagai protein yang diwariskan dalam bentuk DNA dan RNA oleh orang tuanya.

Kecacatan pada gen dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada bayi, bisa dalam bentuk fisik, gangguan metabolisme tubuh dan juga akibat lanjutnya dapat menggangu intelektualitas bayi tersebut.

Di beberapa sentra pendidikan di negara baju, skrining genetik ini sudah rutin dilakukan,  terutama untuk bayi tabung atau Invitro Fertilisation (IVF), sebelum hasil konsepsi tadi ditanam ke dalam rahim seorang ibu. Sedangkan untuk ibu dengan kehamilan normal, hanya dilakukan untuk kelompok risiko tinggi saja.

Misal kelompok ibu yang pernah melahirkan anak cacat, keguguran yang berulang, ibu hamil usia di atas 35 tahun, dan lain sebagainya. Bagi seseorang yang dimasukkan kelompok ibu golongan risiko tinggi ini, dilakukan deteksi dengan cara mengambil cairan amnion/ketuban dan biopsi jaringan calon plasenta bayi dengan bantuan jarum khusus dengan bantuan USG.  Teknik minimal invasif ini dapat dilakukan saat usia kehamilan 13 sampai 15 minggu.

Teknik baru yang disarankan ini yakni dengan cara hanya mengambil darah ibu saat usia janin  9 minggu, dengan tujuan  melihat cell free DNA (cf DNA) dari darah ibu. Keuntungan cara ini yaitu dapat dilakukan lebih awal masa kehamilan dibandingkan teknik minimal invasif dan tidak menusuk jarum ke perut ibu yang kadang membuat ibu hamil takut.

Teknik noninvasif prenatal test (NIPT), tingkat akurasi tinggi 97-99 persen untuk skrining cacat genetik. Pemeriksaan ini membutuhkan waktu hingga 10 hari. Teknik ini sangat baik untuk melihat kelainan seperti down syndrom.

Walau cara ini akurasi tinggi tetapi belum ada suatu rekomendasi khusus oleh badan kesehatan  dunia  seperti WHO dan American College Obstetrics and Ginecologi (ACOG) dalam hal,  apakah semua ibu hamil harus melakukan pemeriksaan skrining genetik dengan metode ini? Tentu ini kemungkinan pertimbangan terkait biaya. Tetapi untuk kelompok risiko tinggi, maka cara noninvasive prenatal test (NIPT) ini bisa membantu para dokter ahli memantau lebih lanjut sampai usia kehamilan 13-14 minggu, dengan kombinasi teknik lain yang sudah lazim digunakan selama ini, sebelum diputuskan sikap dalam menghadapi kelanjutan tumbuh kembang janin tersebut.

Andaikan teknik ini masih sulit, maka saya tetap menyarankan pada setiap ibu hamil, terutama seorang ibu yang masuk kelompok risiko tinggi, alangkah baiknya seorang ibu hamil segera memeriksakan kehamilan saat usia kehamilan 12-15 minggu. Sebab dengan pemeriksaan di awal kehamilan tersebut, dokter diharapkan dapat mendeteksi adanya kelainan anatomi janin dalam periode tersebut. Hindari makan obat-obatan yang tidak diketahui manfaatnya dalam fase tiga bulan usia kehamilan ibu.*ara

*Penulis adalah Dosen Senior FK Unsyiah dan Penjab Klinik Bersalin New Putro Phang, Simpang Surabaya, Bandaaceh.