Beranda Feature Keabadian Kopi Nyonya Apok & Kekuatan Politik Aceh

Keabadian Kopi Nyonya Apok & Kekuatan Politik Aceh

115
0
BERBAGI
Bubuk Kopi Nyonya Apok Seulimeum | Foto:*ist

FOKUSACEH.COM – Sejarah Kekuatan politik Seulimum dapat diukur dari cara orang-orang di sana bertahan dengan kesetiaan pada citarasa kopi Nyonya Apok. 

Bagi orang Seulimum, tak ada kopi yang dapat ditukar dengan “nyum” rasa kopi hitam pekat satu ini, hingga mengalahkan robusta Ulee Kareng yang mendunia itu dari sisi kualitas warna hitamnya, bukan rasa ya, karena lidah 1001 “nyum “.

Bahkan, sejak Arabika Gayo mulai unjuk Gigi di Aceh dengan ciri khas rasa kopi Begi mereka, Orang Seulimum bertahan dengan robusta mereka.

Begitu juga, sulit membayangkan gerakan PUSA tanpa Seulimum, mungkin seperti roti selai Samahani yang tawar tanpa Selainya. Di sini tokoh-tokoh ditempah oleh roda sejarah dan kesetiaan pada Aceh, mulai dari Abdul Wahab Resimen dan cerita gigihnya Ayah Gani naik turun gunung Seulawah mempertahankan Marwah diri sebagai orang Aceh.

Tarik ke belakang sedikit, Tak mungkin Chik di Tiro menggerakkan perlawanan di Aneuk Galong jika tanpa tepukan Restu Abdul Wahab Tanoh Abee. Dari Seulimum, Madjid Ibrahim menelurkan perannya di Darussalam dan Aceh, anak dari Teungku Bireun yang menetap di Lam Jruen.

Pada saat gerakan ideologi dayah dari pantai timur akan merengsek ke Banda, maka kembali Seulimum menjadi spot garis batas. Abdul Wahab Ruhul Fata berjasa betul menegakkan ideologi Dayah di sana hingga ke Banda.

Pun, ketika GAM harus membutuhkan oksigen perjuangan, Thaliban Lampisang dan jejak Gajah Keng benar2 menyuplai udara abadi memompa keberlangsungan spirit gerilia.

Ke depan, Seulimum harus diukir seabadi kopi Nyonya Apok. Agar generasi bangsa tidak ahistory, khawatir haluan sejarah patah, lalu semua menjadi ampas kopi yang bertumpuk tak bertuah lagi.


Penulis   : Muhajir Al Fairusy

Editor     : Dhanil